Air di dunia ini tidak pernah benar-benar bertambah atau berkurang.
Ia hanya berpindah, berubah, lalu kembali.
Kadang ia turun sebagai hujan
lembut menyentuh bumi dalam bentuk presipitasi.
Kadang ia meresap, mengalir pelan dari celah sempit bebatuan, menyusuri tanah-tanah sunyi, melewati lembah-lembah kehidupan, hingga akhirnya bermuara pada lautan yang luas.
Sepanjang perjalanannya, ia memberi kehidupan bagi apa saja yang ia sentuh.
Tanaman tumbuh karenanya
Hewan bertahan hidup karenanya
Manusia pun berdiri di atas alirannya
Air tidak pernah benar-benar menyimpan dirinya
Ia terus bergerak
Terus mengalir.
Namun ada saatnya air berhenti
Ia tertahan dalam genangan yang sempit
Tidak lagi menjadi bagian dari aliran
Perlahan, sesuatu berubah
Kejernihannya memudar
Baunya tak lagi sama
Seolah kehilangan maknanya sebagai air yang memberi kehidupan.
Lalu, tanpa banyak suara
Alam mengambil alih
Air itu menguap naik ke langit dalam proses penguapan.
Di atas sana, ia berkumpul, mengalami kondensasi, membentuk awan-awan yang tenang.
Hingga suatu saat, ia kembali turun sebagai hujan
Kembali ke bumi, dalam bentuk yang lebih jernih, lebih bersih.
Seperti diberi kesempatan untuk memulai lagi.
Begitulah siklus air menjaga kehidupan tetap hidup.
Begitu juga ehidupan manusia, berjalan dengan pola yang tidak jauh berbeda
Ada hal-hal dalam diri kita yang sepertinya memang tidak diciptakan untuk diam
Ia harus bergerak
Harus mengalir
Bukan karena dipaksa, tapi karena di situlah ia menemukan maknanya.
Sebagian orang menemukannya dalam shalat, cara jiwa kembali “naik”, seperti uap yang perlahan meninggalkan bumi.
Sebagian lain merasakannya dalam zakat, cara harta agar tetap hidup
karena ia terus mengalir dan memberi kehidupan bagi yang lain.
Mungkin bukan kebetulan kalau keduanya selalu berdampingan.
Yang satu menjaga hubungan ke langit, yang satu menjaga aliran di bumi.
Dan mungkin, ketika keduanya mulai jarang hadir dalam hidup, yang berubah bukan hanya rutinitas.
Tapi perlahan, rasa dalam hidup itu sendiri.
Seperti air yang terlalu lama diam
Bukan hilang
Hanya… tidak lagi sejernih dulu.
Dan mungkin, yang sering membuat hidup terasa berat bukan karena kita kekurangan sesuatu,
Tapi karena ada yang berhenti mengalir
Ada doa yang mulai jarang naik ke langit
Ada harta yang terlalu lama kita genggam sendiri
Padahal sejak awal, semuanya hanya dititipkan untuk dialirkan
Air tidak pernah bingung dengan tugasnya
Ia hanya mengalir
Naik saat waktunya naik
Turun saat waktunya turun
Memberi tanpa harus merasa kehilangan
Manusia… kadang lebih rumit
Kita ingin tetap jernih, tapi enggan mengalir
Kita ingin hidup terasa lapang, tapi menahan apa yang seharusnya dilepaskan.
Dan semoga pada momentum Ramadan ini, kita mulai sadar
Bahwa yang kita butuhkan bukan sesuatu yang baru
Hanya keberanian untuk kembali mengalir
Kembali perlahan, tanpa perlu menunggu sempurna.
Karena seperti air, jalan itu selalu ada
Menuju langit
Menuju bumi
Menuju Dia
yang tidak pernah lelah menerima setiap aliran yang kembali.
Ya Rabbi
Hidupkan kami dengan Shalat, mudahkan kami dalam berzakat 🤲🏻
Lanjutkan Membaca
Materi ini eksklusif untuk jamaah dan member terdaftar. Masuk sekarang untuk membaca selengkapnya, menyimpan materi, dan berdiskusi.
Sudah punya akun? Masuk di sini